Kembali Bercerita

Senang bisa bertemu kembali, setelah blog terakhir yang saya buat 7 tahun lalu. Salam kenal, saya viskha, berusia 24 tahun saat ini dan sedang menjalani indahnya kehidupan di Pulau Dewata, Bali. 

Menulis sekarang terasa aneh dan kaku, maklum, sudah terlena dengan mudahnya akses dunia digital yang dapat dengan mudahnya dibagikan. Tapi tepat pada hari ini, saya memutuskan untuk kembali. Sedikit merasa lelah dengan dunia digital yang dalam hitungan menit dapat dilihat puluhan orang, saya ingin kembali bercerita melalui tulisan. Tapi jangan berharap untuk segera menemukan kata-kata indah bak mutiara didalam blog ini ya. Haha.. Maklum, belajar lagi dari 0 nih. Tidak ada kata terlambat, kan?

Rindu rasanya menuangkan isi pikiran dalam tulisan. Kebetulan momen ini saya kira adalah momen yang sangat baik. Belakangan ini, banyak sekali pikiran yang memenuhi kepala saya. Ditambah dengan situasi di bulan Oktober bagi pariwisata Bali yang tidak kunjung membaik. Tapi dengan modal keyakinan, mudah mudahan 2021 merupakan awal yang baik bagi kehidupan pariwisata kami, dan juga sektor lainnya.

Kebetulan, saya men-suscribe salah satu artikel dari NOW! Bali Newsletter yang masuk ke email saya setiap harinya. Dari awalnya hanya berbentuk popped-up di layar smartphone saya, sampai pada akhirnya saya membaca secara keseluruhan isi dari artikel tersebut. Menurut saya artikel ini sangat relevan untuk keadaan Bali saat ini.

“Covid-19 has been a real awakening for Bali. It has proven just how dangerously dependent the island is on one industry, though – this was something everyone knew before but did nothing about!”

It’s not all bad news though. A positive change during the pandemic in Bali has been the attitudes of residents, changing their consumer habits by supporting farmer-to-consumer businesses in Bali. Why not replace that trip to the supermarket by supporting local producers directly?

Setelah membaca artikel tersebut saya simpulkan bahwa kabar baik dan kabar buruk memang bisa datang secara bersamaan. Kabar buruknya adalah Bali saat ini akhirnya harus membuka mata dan menerima kenyataan bahwa pariwisata adalah sesuatu yang sangat rentan / fragile. Namun kabar baiknya adalah saat ini masyarakat Bali bisa belajar untuk mendukung satu sama lain dengan hasil dari kekayaan alamnya yang dapat dijadikan sebagai sumber kebangkitan atau sektor ekonomi baru di pulau 1000 pura ini. Buktinya, kita semua secara tidak sadar sudah mampu melewati 6 bulan masa-masa sulit ini.

Berdiri pada satu sektor tertentu memang tidak selamanya baik, terlebih saat ini dunia seperti sedang berputar cepat. Kita tidak tahu apa yang akan datang hari ini, esok, satu minggu, satu tahun hingga sepuluh tahun kedepan?

Menyiapkan diri sebaik mungkin adalah hal yang perlu dilakukan saat ini. Ini bukan lagi masalah siapa yang terpintar, tercepat atau terbaik. Tapi saat ini adalah siapa yang mampu bertahan dan beradaptasi, serta menemukan solusi daripada mengeluh dan berdiam diri.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s